Pages

Subscribe:

Senin, 18 Maret 2013

Ini Baru Awal dari Coutinho


Liverpool - Penampilan Coutinho di laga kontra Swansea City mengundang decak kagum. Namun itu baru awalnya saja karena gelandang muda Brasil itu masih bisa mempertontonkan kemampuannya lagi di laga-laga mendatang.

Untuk pertama kalinya sejak pindah dari Inter Milan akhir bulan lalu, Coutinho dipasang sebagai starter di formasi 4-3-3 bersama Lucas Leiva dan Steven Gerrard di lini tengah. Debutnya adalah saat The Reds kalah dari West Bromwich Albion awal pekan lalu tapi ia baru masuk di 10 menit terakhir laga.

Bermain sejak awal di laga kontra Swansea, Minggu (17/2/2013) malam WIB, Coutinho menunjukkan impresi yang begitu bagus dan memperlihatkan mengapa jersey no.10 pantas disematkan padanya.

Statistik Soccernet mencatat Coutinho membuat lima tembakan sepanjang laga dengan satu berbuah gol di menit 46 ketika ia menerima umpan Luis Suarez, men-dribbling bola ke kotak penalti dan mengecoh dua pemain sebelum melepaskan tembakan kaki kanan keras.

Bahkan ia beberapa menit setelahnya nyaris mencetak gol keduanya andaikan tembakan backheel-nya tak meleset tipis di samping gawang. Penampilan Coutinho akhirnya terhenti ketika laga berjalan sejam karena ia harus digantikan oleh Jordan Henderson.

Tapi itu tak mengurangi sedikit pun penampilan apiknya di laga itu dan membuatnya mendapat standing ovation dari publik Anfield. Usai laga Rodgers pun puas dengan penampilan pesepakbola 20 tahun itu dan berharap Coutinho bisa memperlihatkan aksi-aksi menawannya lagi di laga-laga berikutnya.

"Coutinho benar-benar pemain bertalenta. Dia baru berumur 20 tahun tapi dia punya pengalaman bagus bermain di level tertinggi," tutur Rodgers merujuk pada karier Coutinho di Seri A (Inter) dan La Liga (Espanyol).

"Dia mungkin butuh sedikit waktu beradaptasi dengan tempo permainan di Inggris. Dia datang dari Italia di mana laga berjalan sedikit lebih lambat tapi dia punya teknik yang mengagumkan," sambungnya.

Dengan golnya ke gawang Swansea, Coutinho jadi pemain termuda kedua setelah Giuseppe Rossi (20 tahun 206 hari) yang mampu mencetak gol di tiga kompetisi elit -- Inggris, Italia dan Spanyol -- dalam usianya yang baru 20 tahun 250 hari. Demikian dilansir Infostrada.

"Anda sudah melihat kualitas dan kecepatannya dalam mengumpan di laga tadi -- dia sangat piawai dalam membaca permainan. Saya punya harapan tinggi untuknya. Dia adalah tipe pemain yang ingin kami bawa ke sini -- pemain berteknik yang punya karakter kuat dan mental yang bagus. Saya yakin dia akan semakin lebih baik lagi," tuntas Rodgers seperti dilansir situs resmi tim.

Terry Bantah Ada Perselisihan dengan Benitez


London - Belakangan diisukan hubungan antara John Terry dan manajer interim Chelsea, Rafael Benitez, sedang merenggang akibat jarangnya Terry bermain. Hal itu kemudian langsung dibantah kapten The Blues tersebut.

Isu ini bermula ketika Terry yang sudah pulih dari cederanya tidak dimainkan jua sebagai starter oleh Benitez yang lebih memilih duet Gary Cahill dan Branislav Ivanovic atau David Luiz. Padahal saat itu kondisi Terry sudah fit seratus persen.

Sejak Benitez menangani tim asal London Barat itu malah bek 31 tahun itu baru bermain sejak awal di tiga laga yakni kontra Newcastle United (Liga Inggris) plus dua laga Piala FA kontra Brentford. Hal ini kemudian yang membuat media memanas-manasi bahwa ada masalah di antara keduanya.

Tapi pasca kemenangan 4-0 atas Brentford di laga replay babak keempat Piala FA, Terry secara tegas membantah isu tersebut dan memaklumi dirinya saat ini memang kalah baik dibanding Cahill, Ivanovic atau Luiz yang bermain baik saat ia absen.

"Jelas ini adalah kabar bohong," sahut Terry seperti dilansir Soccernet.

"Banyak pemberitaan hari ini di media, tapi itu karena wartawan malas mencari berita. Manajer tahu saya ingin bermain tapi saya sudah absen selama tiga atau empat bulan terakhir, tapi dua bek tengah lainnya sudah tampil baik. Jadi kompetisi begitu ketat di tim ini dan kami semua ingin bermain," lanjutnya.

"Tidak ada masalah kok. Anda bisa lihat sendiri di lapangan, dia juga berlatih," timpal Benitez.

Ketika Wenger Marah-marah dalam Konferensi Pers


London - Manajer Arsenal Arsene Wenger marah-marah dalam konferensi pers jelang laga melawan Bayern Munich. Wenger saat ini sedang dalam sorotan tajam menyusul hasil mengecewakan yang dipetik timnya.

The Gunners akan bersua dengan Bayern di Emirates Stadium, Rabu (20/2/2013) dinihari WIB dalam pertandingan leg pertama babak 16 besar.

Menghadapi laga penting ini, Arsenal tidak dalam kondisi terbaiknya. Selain hampir tak mungkin lagi bisa bersaing dalam perburuan titel juara liga, Jack Wilshere dkk. juga telah kehilangan kans juara Piala Liga dan terakhir Piala FA usai menelan kekalahan mengejutkan dari tim-tim di bawahnya.

Pada sesi tanya jawab yang digelar tadi malam waktu setempat (18/2), Wenger yang biasanya kalem jadi kehilangan kesabaran saat menghadapi pertanyaan tajam dari para jurnalis.

Seperti ketika ditanya mengenai bagaimana Arsenal bisa mengalahkan Bayern, sementara mereka sendiri kalah dari Bradford City dan Blackburn Rovers? Wenger menjawab dengan sengit.

"Menurut Anda, apakah Bayern tidak pernah kalah melawan klub yang lebih kecil di Jerman? Man United, kalah dari tim Divisi Tiga.. Mereka pernah kalah. Itu bisa terjadi. Yang mengherankan adalah, ketika itu terjadi kepada saya, maka langsung jadi huru-hara. Anda tahu kenapa? Karena dalam 16 tahun, itu tidak pernah terjadi pada saya," sembur dia seperti diwartakan Telegraph.

"Anda tidak bisa membandingkan Piala FA dengan Liga Champions. Semua orang ingin berada dalam posisi kami. Hanya ada dua tim Inggris yang lolos ke fase knock-out Liga Champions. Saya tidak tahu mengapa kami dianggap tidak bisa mengatasinya."

"Ini bukan soal apa yang orang-orang bilang, ini tentang apa yang kami lakukan di atas lapangan. Kami memang underdog. Jika saya mendengarkan pertanyaan Anda, kami memang bukan favorit. Tapi, saya percaya dengan kualitas, semangat, dan kekuatan mental kami. Jadi, sampai jumpa besok. Kami sangat konsisten di kompetisi itu. Dan sekarang kami ingin terus melaju. Saya pikir kami punya sebuah peluang yang fantastis."

Melawan Blackburn, Wenger tak menurunkan tim terbaiknya dari awal. Hal ini memicu dugaan bahwa Arsenal tak menganggap serius kompetisi Piala FA. Tapi, Wenger menilai kritik itu sama saja tidak menghormati para pemainnya.

"Saya telah memenangi empat kali Piala FA. Siapa lagi yang memenanginya lebih banyak? Beri saya salah satu nama," ucap dia. Sekadar informasi pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson memenangi Piala FA lima kali.

Pertanyaan seputar kekalahan dari Blackburn tidak mau dijawab Wenger karena ingin mementingkan laga Liga Champions ini. Tapi, kemudian ia juga menolak menjawab pertanyaan tentang pertahanan Bayern yang cuma kebobolan satu gol di laga away Bundesliga.

Setelah kandas di Piala FA, Arsenal kini tinggal berharap pada Liga Champions. Namun, dengan kans yang tipis di kompetisi tersebut, maka tim London Utara ini bisa saja tengah mendekati puasa gelar di musim kedelapan berturut-turut. Ketika ditanya mengenai kans tersebut, Wenger menjawab dengan nada sarkas.

"Terima kasih banyak atas pertanyaan itu -- saya sudah lama sekali tidak menjawabnya."

Kemarahan Wenger lainnya juga dipicu rumor bahwa Arsenal telah menawarkan kontrak baru, padahal kontraknya baru habis 2014. Menurut manajer Prancis ini, isu itu sengaja dibuat setelah kekalahan dari Blackburn untuk membuat orang-orang menentang dia.

"Itu adalah informasi yang salah. Saya sudah bekerja selama 16 tahun di Inggris, dan saya pikir saya berhak untuk mendapat lebih banyak kredit daripada mendapatkan lebih banyak informasi yang keliru, yang mana cuma punya satu niat: untuk menjahati," tuding manajer Prancis itu.

"Saya marah karena Anda memberitakan informasi yang salah. Kebohongan itu dilakukan untuk menyakiti. Sangat gampang menulis bahwa seseorang tidak bahagia, atau tiba-tiba dia akan memperpanjang kontraknya. Kenapa berita seperti ini hanya datang saat kami kalah di laga penting? Anda pikir saya sangat naif sehingga saya tidak tahu maksud tersembunyi di belakangnya? Anda pikir saya idiot?" lanjut Wenger dengan sengit.

"Anda bisa mengkritik saya dan bilang saya seorang manajer yang buruk. Saya tidak pernah mengeluh ketika Anda mengkritik seperti itu. Tapi, hal-hal seperti ini adalah hal-hal yang manipulatif. Dan ketika ada kebohongan seperti itu, saya tidak bisa menerimanya."

Wenger juga terlibat adu mulut dengan seorang wartawan, yang dikiranya menulis rumor soal perpanjangan kontrak itu. "Saya melihat Anda bukan karena saya mengira Anda yang memberikan informasi itu. Saya tidak tahu apakah itu Anda yang memberikannya atau bukan. Saya tidak tahu dari mana informasi itu datang. Kenapa Anda melihat saya?"

Sang wartawan kemudian menjawab dengan lugas, "Saya melihat Anda, karena ini adalah konferensi pers Anda." Lalu, Wenger pun menuntaskan perdebatan dengan mengatakan, "Oke. Baiklah kalau begitu, terima kasih."

Fantasi CEO ala 'Profesor' Wenger


thumbnailAFP
Julukan "profesor" yang disandang Arsene Wenger mulanya datang karena kejeniusannya dalam mengombinasikan keahlian meramu taktik, keberanian menampilkan sepakbola menyerang yang atraktif, kecermatan dalam mempersiapkan tim dengan menggunakan statitistik sampai kepeduliannya pada diet dan nutrisi bagi pemain. Pendeknya: Wenger sebagai tactician. 

Kini gelar "profesor" masih dilekatkan pada Wenger, tapi asosiasinya lebih sering merujuk kemahirannya dalam menyeimbangkan neraca keuangan dan mendatangkan keuntungan bagi klub. Pendeknya: Wenger sebagai profesor[honoris causa] di bidang ekonomi sepakbola, sebagaimana para CEO perusahaan-perusahaan besar yang labanya mengkilap kerap mendapatkan gelar kehormatan dari institusi-institusi pendidikan.

Setelah berinvestasi dalam pembangunan stadion baru yang kini bernama Stadion Emirates [mulai ditempati pada 2006], Arsenal dari tahun ke tahun tampil sebagai klub yang sangat mengesankan -- bukan dalam hal prestasi, tapi dalam mengeruk laba. Antara tahun 2004 sampai 2009, misalnya, tim "Gudang Peluru" ini rata-rata menangguk laba sekitar 4,4 miliar poundsterling.

Laba sebesar itu datang bukan hanya dari penambahan jumlah penonton kandang -- Stadion Emirates surplus 22 ribu kursi dibanding Highbury --, tapi juga dari penjualan merchandise, dan terutama dari penjualan pemain (tiap musim selalu ada pemain penting, bahkan kapten tim, yang dijual Wenger ke klub rival), hak siar televisi dan "hadiah" yang didapat dari UEFA untuk setiap kemenangan yang didapat di Liga Champions.

Mereka menjual Nicolas Anelka, Marc Overmars, Emmanuel Petit, Henry, Fabregas, Vieira, Kolo Toure, Robin van Persie, Emmanuel Adebayor, Flamini, Alexander Hleb, Samir Nasri, Song, Ashley Cole sampai Gael Clichy. Kebanyakan dari mereka dijual saat masih dalam usia emas. Dan beberapa di antara mereka bahkan dijual ke klub yang menjadi rival mereka dalam perebutan gelar juara Liga Inggris -- misal: Ashley Cole ke Chelsea, Adebayor-Nasri-Clichy ke Manchester City, Robin van Persie ke United.

Penjualan pemain macam itu bisa dibilang berbanding lurus dengan evolusi Wenger sebagai profesor tacticianmenjadi profesor (honoris causa) ekonomi sepakbola. Evolusi Wenger itu pula yang membuat target tetap lolos zona Liga Champions jauh lebih utama ketimbang menjuarai Piala FA atau Piala Carling -- tak peduli sudah bertahun-tahun suporter Arsenal tak lagi mencicipi kejayaan. Pemasukan yang masuk ke kas Arsenal di Liga Champions jauh lebih menggiurkan ketimbang "trofi-trofi Mickey Mouse" macam itu.

Inilah yang membuat Arsenal menerima kritik yang bertubi-tubi terkait mentalitas pengelolaan klub. Kenny Dalglsih, dalam salah satu artikel yang ditulisnya di Daily Mail, menyebut penjualan van Persie ke Manchester United seakan sebagai pengakuan bahwa Arsenal ada di bawah level United. Penjualan itu seakan jadi isyarat betapa Arsenal "tak tertarik" untuk mendapatkan trofi Liga Inggris.

Wenger mencoba menepis kritik itu dengan mulai aktif di bursa transfer dengan membeli pemain-pemain jadi, dari mendatangkan Per Mertesecker, Thomas Vermaelen di lini belakang, Mikel Arteta dan Alex Oxlade-Chamberlain di lini tengah sampai Oliver Giroud dan Lukas Podolski di lini depan. Tapi pembelian itu pun tak urung mendapatkan kritikan sebagai panic buying, tanggung dan setengah-setengah.

Maka kekalahan telak 1-3 Arsenal oleh Bayern Muenchen minggu lalu, setelah sebelumnya tersingkir di Piala Carling dan Piala FA serta tersisih dari perebutan gelar juara liga, semakin mempertegas kritik banyak kalangan terhadap mentalitas Wenger dan Arsenal dalam mengarungi kompetisi. Jika Arsenal akhirnya tersingkir di Liga Champions, kritik itu pasti akan makin hebat mengarah ke Wenger dan Arsenal. Akan menjadi bencana besar jika di akhir musim mereka pun tak mampu menembus zona Champions.

Wenger sendiri berdalih bahwa apa yang dilakukannya bersama Arsenal adalah cara paling rasional dalam mengelola klub sepakbola. "Lihatlah. Inggris bangkrut, Eropa bangkrut. Tapi semua orang terus saja berbelanja. Arsenal tidak bangkrut. Itu karena kami menghabiskan dana dengan cara yang lebih bijaksana," ujar Wenger seperti dikutip The Guardian setahun lalu.



Tapi apa sebenarnya yang dimaksud "bijaksana"?

Wenger mungkin paling bijaksana dalam menahkodai sebuah perusahaan sepakbola. Mudah untuk mengatakan betapa yang dilakukan Wenger dengan Arsenal memang lebih sehat ("ebih bijaksana", dalam kosa kata Wenger) ketimbang yang terjadi di Real Madrid, Chelsea, Mancheser City dan United.

"Bijaksana" dalam kosa kata Wenger-ian, tampaknya, lahir dari cara berpikir mengelola sebuah perusahaan, bukan lagi cara berpikir mengelola sebuah klub olahraga yang di dalamnya inheren nilai-nilai klasik mengenai kejayaan, kemenangan, harga diri, kebanggan lokal/komunitas, dll.

Sesungguhnya, apa yang dilakukan Wenger dengan skala yang berbeda-beda juga dilakukan klub-klub lain. Bahkan FC St. Pauli sekali pun, klub yang jadi kultus karena sikap dan padanangan ekonomi-politik suporternya terhadap sepakbola modern, sudah mengalami dilema yang disodorkan sepakbola modern dengan industrialisasinya. Profit adalah paradigma utama sepakbola saat ini. Duit berhamburan di lapangan hijau. Harga tiket makin melambung, gaji dan kontrak pemain makin tinggi, hak siar televisi kian mahal, dll., dkk., etc.

Sorotan kencang terhadap Arsenal ini barangkali karena tidak ada sosok manajer selain Wenger yang sangat artikulatif dalam mengutarakan konsep-konsep dan gagasan klub sebagai perusahaan sepakbola.

Kemampuan Wenger dalam mengartikulasikan ide-idenya itu mungkin sangat meyakinkan, sampai-sampai (sejauh yang saya tahu) tak terdengar perlawanan ideologis berskala massif dari para fans Arsenal. Bandingkan dengan perlawanan para fans Manchester United terhadap Glazer Family -- sampai-sampai fans tradisional mereka bahkan mendirikan klub tandingan, FC United of Manchester. Atau bagaimana para fans Liverpool menggelar kampanye menentang Gillet beberapa tahun lampau.

Inilah yang tampaknya akan menjadi warisan terbesar Wenger dalam sepakbola modern. Dia sudah melampaui level sebagai seorang manajer. Jika di Indonesia masih sangat kepayahan untuk menginisiasi posisi manager-coach, apa yang dilakukan Wenger malah sudah melangkah lebih jauh lagi. Sampai batas-batas tertentu, dia yang kelak bisa disebut sebagai sang pemula peran baru dalam sepakbola: manajer-CEO.

Inilah awal dari evolusi Football Club [FC] menjadi Football Corporate [Manchester United sudah menghilangkan kata "Football Club" di jersey mereka pada musim 1998 saat mereka hendak masuk ke lantai bursa]. Evolusi ini akan membawa berita-berita sepakbola tak lagi tampil di halaman/rubrik olahraga, tapi halaman/rubrik ekonomi-bisnis-finansial.

Jika sudah demikian, game Fantasy Manager pun mungkin akan berevolusi menjadi Fantasy CEO. Dan subjek-subjek yang harus diisi oleh para penikmat game itu pun bukan hanya prediksi starting line-up, tapi juga prediksi jumlah penonton di stadion dan prediksi rating penontong di televisi.

Fergie: Rooney Tak Akan Dijual


Manchester - Sir Alex Ferguson akhirnya buka mulut pasca kekalahan dari Real Madrid di Liga Champions lalu. Pernyataan pertamanya adalah memastikan Wayne Rooney tak akan dijual dan tetap berada di Manchester United musim depan.

"Dia akan berada di sini musim depan. Anda bisa pegang kata-kata saya," tegas Fergie dalam jumpa pers seperti dilansir Guardian.

Masa depan Rooney pasca dicadangkan di duel leg kedua babak 16 besar Liga Champions memang dispekulasikan. Banyak yang menilai Rooney tak lagi dibutuhkan oleh MU mengingat mereka kini sudah punya Robin van Persie dan Danny Welbeck serta Javier Hernandez juga kian berkembang.

Berita ini ramai diperbincangkan di media-media Eropa dalam tiga hari terakhir dan Rooney disebut bakal bernasib sama seperti Jaap Stam, David Beckham dan Ruud van Nistelrooy, bintang-bintang MU terdahulu yang didepak karena bersebrangan dengan Fergie.

"Tidak ada masalah antara saya dengan Wayne Rooney. Omong kosong jika ada yang bilang kami tidak saling berbicara," sambungnya.

Lebih lanjut Fergie juga mengkritik media yang justru tidak mempermasalahkan keputusannya mencadangkan Shinji Kagawa, yang baru saja mencetak hat-trick di laga kontra Norwich City pekan lalu.

"Dia sangat mengerti alasan (mengapa dicadangkan). Secara taktik kami benar meskipun tak selamanya akan sukses. Tidak ada masalah dengan si pemain."

"Saya mencadangkan Shinji Kagawa yang baru saja mencetak hat-trick. Saya pikir Anda akan lebih menanyakan soal itu," demikian Fergie.

Gomez Dua Gol, Bayern Gilas Bremen 6-1


Munich - Bayern Munich menang besar saat berhadapan dengan Werder Bremen. Dalam laga yang diwarnai kartu merah untuk tim tamu itu, Die Rotenmenang telak 6-1, dua gol di antaranya dibukukan Mario Gomez.

Pada pertandingan yang berlangsung di Allianz Arena, Sabtu (23/2/2013) malam WIB, Bayern unggul dua gol terlebih dulu di babak pertama berkat gol yang dicetak oleh Arjen Robben dan Javi Martinez.

Pada penghujung babak pertama tim besutan Thomas Shcaaf harus bermain dengan sepuluh orang usai Sebastian Prodl diganjar kartu merah sebab melanggar Gomez.

Di babak kedua, The Bavarians yang unggul jumlah pemain bisa menambah empat gol, berkat gol bunuh diri Theodor Gebre Selassie, dan dua gol dari Gomez, serta satu gol Franck Ribery.

Die Werderaner mencetak gol balasan lewat kaki Kevin De Bruyne. Gol itu mengakhiri catatan clean sheet selama 577 menit Bayern di Bundesliga.

Dengan kemenangan ini Bayern bisa memperlebar jarak dengan saingan terdekatnya, Borussia Dortmund. Mereka menduduki posisi pertama klasemen Bundesliga dengan raihan 60 poin, unggul 18 angka dari Die Borussen di peringkat dua, yang baru akan memainkan laga besok.

Sementara bagi Bremen, mereka menempati posisi 12 dengan kumpulan 28 poin hasil dari 23 kali main.

Jalannya Pertandingan

Bremen mendapatkan peluang pertama dalam pertandingan di menit 15. Sialnya, sepakan De Bruyne dari sisi kiri luar kotak penalti Bayern masih belum menemui sasaran.

Lima menit berikutnya giliran tuan Bayern yang mengacam. Juga lewat sepakan jarak jauh, Robben memberikan ancaman. Tapi sepakan dari sisi kanan pertahanan Bremen masih bisa diantisipasi oleh Sebastian Mielitz.

Robben akhirnya bisa membuka skor untuk tuan rumah di menit 25. Philipp Lahm melakukan overlapping di sisi kanan, lalu mengirim umpan silang ke muka gawang.

Winger timnas Belanda itu lari dari belakang langsung melakukan tendangan voli keras dari jarak dekat. Tuan rumah pun unggul 1-0.

FC Hollywood menggandakan keunggulan empat menit kemudian. Gol itu berawal dari umpan tendangan bebas yang diarahkan ke tengah kotak penalti Bremen.

Javi Martinez bisa lolos dari jebakan offside, lalu menyundul bola ke pojok kiri atas gawang yang di Bremen.

Tim tamu harus bermain dengan 10 orang beberapa saat menjelang turun minum. Gomez yang sudah lolos dari kawalan pemain belakang Bremen, mendapatkan tekel keras dari Prodl. Tanpa ragu wasit mengganjar dengan kartu merah.

Xerdan Shaqiri yang mengambil tendangan bebas itu cuma bisa mengirim bola melayang di atas gawang.

Bayern semakin tak terkejar di babak kedua Gebre Selassie melakukan gol bunuh diri. Dia salah mengantisipasi umpan silang Gomez dari sayap kanan.

Dua menit berselang giliran Gomez yang mencatatkan namanya di papan skor. Menyontek bola lob Franck Ribery di muka gawang Bremen, pemain dengan nomor punggung 33 itu dengan mudah memasukan bola ke dalam gawang.

Bremen memperkecil ketertinggalan di menit 58. De Bruyne yang tak terkawal menaklukan Manuer Neuer memanfaatkan Aleksandar Ignjovski.

Ribery menambah gol bagi Bayern di menit 86. Menyambut crossing Lahm, sepakan kerasnya dari dalam kotak penalti membobol gawang Bremen.

Gomez membukukan gol keduanya semenit menjelang waktu normal pertandingan habis. Dia mencetak gol itu dari jarak dekat memanfaatkan bola operan Robben dari lini tengah. Bayern pun menutup laga dengan skor 6-1.

Susunan Pemain

Bayern Munich: Manuel Neuer, Dante, Jerome Boateng, Philipp Lahm, Diego Contento, Franck Ribery, Javi Martinez (Anatoliy Tymoschuk 53), Arjen Robben, Xherdan Shaqiri (David Pizzaro 72), Luis Gustavo Dias, Mario Gomez

Werder Bremen: Sebastian Mielitz, Lukas Schmitz, Sebastian Prodl, Junuzovic Zlatko, Theodor Selassie, Assani Lukimya-Mulongoti, Kevin De Bruyne, Aaron Hunt (Mateo Pavlovic 45), Aleksandar Ignjovski, Nils Petersen, Marko Arnautovic

Jarang Dimainkan, Gomez Tetap Yakin Punya Masa Depan di Bayern


Munich - Musim ini, Mario Gomez tak mendapat banyak kesempatan bermain. Meski demikian, dia tetap yakin akan bertahan lama di Bayern Munich.

Gomez tak lagi jadi pilihan utama di lini depan Bayern. Jupp Heynckes lebih sering menurunkan Mario Mandzukic serta Thomas Mueller.

Di Bundesliga, Gomez baru tampil 13 kali dan hanya empat di antaranya sebagai starter. Penyerang 27 tahun itu juga baru mengoleksi enam gol.

Gomez mengaku kecewa dengan terbatasnya kesempatan bermain yang didapatnya. Kendati demikian, eks pemain Stuttgart itu tetap yakin punya masa depan yang panjang bersama Bayern, terlebih kontraknya sudah diperpanjang hingga 2016 pada tahun lalu.

"Tentu aku selalu kecewa ketika tidak dimainkan sejak awal, khususnya untuk laga besar menghadapi lawan seperti Borussia Dortmund dan Arsenal," sahut Gomez kepada Sport-BILDseperti dikutip Sky Sports.

"Tapi aku tidak akan menandatangani kontrak baru jika aku tidak yakin itu adalah keputusan yang tepat. Aku melihat ke masa depan dan kembali ke tim utama," lanjutnya.

Posisi Gomez di skuat utama Bayern juga makin terancam dengan rumor kedatangan Robert Lewandowski ke Allianz Arena. Tapi penyerang internasional Jerman itu tak menghiraukan kabar itu.

"Rumor-rumor itu sangat membosankan bagiku," katanya.